Bloody Anna
- Yelina Khosasih
- Apr 30, 2022
- 10 min read
Updated: Jul 19, 2022
Warna apa yang bisa kuambil dari tubuhmu?

Hoam...
Pukul berapa ya, sekarang? Ah, sudahlah! Paling pukul... hmm,, mungkin 02.30(?). Yang jelas semua orang pasti sedang tertidur. Namun, aku tidak bisa tertidur. Bruh...
Entah kenapa, rasanya hari ini melelahkan sekali. Padahal, aku sedang retreat 3 hari bersama dengan teman-teman SMA ku. Bela, dan Diana adalah teman sekamarku yang sekarang sedang tertidur pulas dengan aku yang berada diantara mereka, seolah seperti pemisah di kasur besar ini.
Sebenarnya, mereka bukanlah temanku. Jangankan 'teman' kurasa mereka tidak begitu menyukaiku. Atau ini hanya perasaanku saja?
Yah... Siapa juga yang ingin berteman dengan seseorang pendiam seperti aku?
Untungnya, ada retreat ini. Aku merasa teman sekamarku ini sudah mau menerimaku. Kami saling mengobrol, bercanda, curhat, bermain, bahkan.. 'mengosip' hehehe... kalian tahulah para perempuan jika disatukan. Aissh, mungkin karena suasana beberapa hari dalam retreat ini, terasa 'baru' untukku. Rasanya aku jadi takut untuk meninggalkan retreat. Padahal, hari ini, hari terakhir acara Retreat. Besok, sudah harus pulang.
Entah, dari pukul berapa aku sudah terbangun sambil memperhatikan sebelah kiriku Bela dan sebelah kananku Diana yang masih tertidur pulas. Sedangkan, aku masih belum bisa tidur. Aku hanya memperhatikan sekeliling kamar ini.
Kamar yang besar, suasana kamar yang khas orang Jawa dulu. Antik. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah corak dinding ruangan ini. Jujur, memang hobiku adalah melukis, dengan melukis rasanya perasaanku bisa tenang.
Melihat dinding ruangan ini, rasa seperti berada dalam kanvas. Corak merah seperti bunga yang indah dan tersebar di setiap dinding rumah ini. Walaupun, coraknya sedikit berantakan. Mungkin, pengaruh umur kamar ini ?
Eh?
Bo...Boneka??
Mataku terpaku dengan sebuah boneka perempuan yang berambut keriting di ujung pojok kanan atas lemari baju. Sejak kapan? Mataku masih menatap boneka itu dari bawah tepat diatas kasurku dan aku masih terbaring dengan selimut yang hampir menutup seluruh wajahku dan hanya menyisakan mataku saja.
Hm,, boneka yang cantik.
Baru sesaat aku berpikir seperti itu. Tiba-tiba, sorot mata kami bertemu. Mata boneka itu tiba-tiba saja menatapku ke bawah! Bola mataku yang tadinya sedikit sayu. Langsung, membesar. Tentu saja, aku TAKUT! Rasanya ingin berteriak namun, aku tdak bisa.
Alhasil, yang bisa kulakukan hanya langsung menutup mataku. Seolah, aku tertidur dan 'berpura-pura' aku tidak melihat boneka itu. DEG!
G l e k!
Aku menelan ludah.
Karena tubuhku merasa bahwa, ada sesuatu yang berjalan diatas tubuhku.
Semakin dekat..
Semakin dekat
Semakin dekat ke kepalaku.
Aku masih menutup mataku. Tidak berani membukanya. Tiba-tiba, AKU MALAH BISA MELIHAT boneka itu !!! Pujian 'cantik' kutarik kembali. Boneka ini, sekarang tepat di hadapanku dengan wajah jelek, dengan wajah setengah hancur, menyeramkan, penuh darah, dan mata kanan yang berlubang.
AAAAAAA!!!! aa!!aa....
aa....
.....
Aku tidak bisa bernafas.... karena tiba-tiba, tubuhku ditahan oleh Diana dan Bela yang dengan kasar menutup setengah wajahku. Namun, aku juga merasakan bahwa ada tangan yang mencekik leherku.
Kee... kenapaa....
Kenapaa... ?
Batinku berbicara.
Sesaat aku kaget dan tidak percaya. Apa mereka, Bela dan Diana yang sudah kuanggap teman. Justru, sekarang ingin membunuhku!? Untuk pertama kalinya, aku melihat jenis tatapan seperti itu. Tatapan seseorang yang benar-benar ingin membuatku mati!!
Padahal, aku sudah benar-benar menganggap mereka sebagai temanku. Sebagai 'obat' dari sikapku yang benar-benar pendiam. Ta... tapi... kenapa???
"Kamu tanya kenapa? Kami ini, bukan temanmu! Kami juga bukan 'obat' mu! Siapa juga yang mau berteman dengan orang yang 'berpenyakitan', pendiam seperti kamu!"
Diana angkat suara.
"Orang sepertimu. Lebih baik –"
Bela melanjutkan sambil mengeluarkan sebuah pisau ditangan kirinya.
Tu-tunggu!!
Tangan kanan Bela yang tadinya masih menutup setengah wajahku. Sehingga aku tidak bisa bernafas maupun berbicara. Sekarang, kedua tangan Bela sudah berada di genggaman pisau yang bearada dekat diatas kepalaku. Aku ketakutan.
Jang...an ----
Jan.. gan.....
"JANGAN ---!! "
"MATI SAJA!!!!"
"BUNUH AKU!!!!"
Bela langsung menusukku bersamaan ketika aku berteriak "JANGAN! BUNUH AKU!"
Hosh... hosh...
Aku langsung terbangun dari tidurku. Langsung mengambil posisi duduk sambil mengenggam baju didepan dadaku dengan ternegah-engah. Kaget dan masih ketakutan.
"Uughh! Ja- jadi.. itu semua...Cuma mi-mimpi !?"
Tanyaku sambil masih terengah-engah. Kamar yang masih sama, ruangan yang masih sama, corak dinding yang masih sama, corak bunga merah yang tersebar di dinding dan sedikit berantakan coraknya. Tunggu! Mana boneka itu!?
Tidak ada diatas lemari? Dimana boneka itu? Mataku melirik seluruh ruangan kamar ini. Dan, memang boneka itu tidak ada. Hahahaha, apa ini karena nonton film 'Annabelle' kemarin ya, bareng Bela sama Diana? Sampai kebawa mimpi. Hahaha..
Aku ingat kemarin malam kami bertiga menonton film horror yang sangat menyeramkan itu. Tapi, kok mereka ngak ada? Mana Bela sama Diana? Aku baru tersadar, kedua teman tidurku malah tidak ada sekarang.
"Bel??? Diana? Kalian dimana?"
Ucapku yang masih duduk diatas kasur sambil memperhatikan sekitar. Apa lagi mandi? Ga mungkin, suara air aja tidak ada. Jangan-jangan... AKU DITINGGAL!?
Aku cepat-cepat mengambil handphone yang berada diatas meja sebelah kasur. Tu- tunggu... Masih jam 04.26? Kita kan berangkat pulang jam 07.30. Tapi, pada kemana? Lebih anehnya kenapa hatiku bisa tenang seperti ini ya.. Padahal, bukannya harusnya sekarang aku panik atau ketakutan gitu?
Kok ada darah dikasurku? Tapi, noda darah itu tepat diatas posisi aku tidur. Reflekku aku langsung melihat celana tidurku. Lebih tepatnya mengecek bokongku. Tapi, kan aku sudah menstruasi bulan ini. Tapi, kok... Ah sudahlah! Nanti bisa ku bersekan.
Dari jam, mataku berdalih ke tanggal hari ini. Tanggal 6 bulan Juni. HAH!? Sudah tanggal 6 ?! Aku kan retreat cuman 3 hari! Dari tanggal 1 sampai tanggal 3! Kali ini, aku panik! Aku keluar kamar, lari dengan cepat melewati ruang tamu, dapur, dan cepat-cepat mencari pintu keluar dari villa itu.
Haah?????
Betapa terkejutnya aku. Hingga aku terjatuh. Bagaimana bisa aku berada ditengah-tengah hutan yang sangat gelap, pohon-pohon tinggi dan masih berkabut!?
Dan.....
Aku mulai menyadari adanya kejanggalan
Lagipula sejak kapan, sebuah villa ada ruang tamu, dapur dan juga... kamar yang seluas itu!? Aku melangkah dengan gemetaran kedepan. Untuk memastikan tempat apa yang selama ini aku tinggali.
"Rumah tua!!?"
Batin kuberteriak seolah tidak percaya akan kejanggalan ini.
Ini sudah lewat 3 hari dari acara retreat! KENAPA AKU TIDAK MENYADARINYA!? Aku berlari kembali ke dalam rumah tua itu. Tentu saja, untuk mencari "BELA!!!! DIANA!!!! DIMANA KALIAN!!!?" Kali ini aku berteriak dengan kuat.
Aku membuka setiap pintu ruangan yang ada dirumah itu. Membuka dengan cepat, panik, ketakutan, berlari ke setiap koridor rumah itu. Kemana!? Kemana!? Kalian DIMANA!? Aku ketakutan. Tinggal pintu terakhir yaitu pintu belakang halaman rumah.
Mungkin karena aku terlalu panik, aku terjatuh setelah membuka pintu itu sambil berlari. Pintu terbuka. Halaman yang cukup besar dan sedikit tertutupi oleh kabut. Aku perlahan berdiri dengan kaki yang gemetaran. Sambil berjalan pelan memastikan halaman ini.
"Papan apa itu !?"
Kakiku berjalan lebih dekat lagi menuju 2 papan kecil yang tertancap ditanah. Namun, susah melihatnya dengan jelas karena tertutupi oleh kabut. Semakin dekat, semakin dekat. Aku menyentuk papan kecil itu
Amis... aroma yang tidak asing...
Da-darah?
...
Aku terdiam. Terpaku dengan sebuah lukisan berwarna putih, dan abu-abu di tembok halaman itu. Sebuah lukisan. Mural? Mural dengan lukisan seperti ayah, ibu dan seorang anak ditengah yang mengenggam tangan ayah dan ibunya.
Itu... Lukisan sebuah keluarga kah?
Tidak hanya itu aku juga membaca tulisan berwarna merah
"BLOODY ANA"
Dan terdapat tanda panah kebawah yang juga berwarna merah dan mengarah kedua papan itu.
Jujur, aku takut untuk melanjutkan langkahku. Padahal, tinggal satu atau dua langkah aku bisa melihat ada apa di papan itu. Namun, lebih baik aku memastikan saja. Perlahan langkahku maju dan jongkok dengan satu lutut menempel ditanah.
Jariku memegang papan itu. Dingin.... terbuat dari kayu yang sudah hampir rusak(?) sepertinya.. Ternyata di papan itu seperti ada sebuah tulisan yang berantakan. "Tinta apa yang ia gunakan sih? Kenapa aromanya khas sekali?" ini aroma darahkan? Masa.. tinta darah??
"E-Ella Bill-Billian?"
"Ella Billian !?"
Nama yang familiar. Aku seperti pernah mendengarnya. Aku berpindah ke papan kayu yang ada disebelahnya. Membaca lagi apa yang tertulis di papan itu. "D-Di..emm?" Kali ini tulisannnya agak susah dibaca. Aku harus mendekatkan mataku ke papan kayu ini agar lebih jelas membacanya.
"Di-Dian? Niomi? Hah? OH!"
"Dina Naomi!?"
Itu pasti maksud tulisan ini. Ella Billian dan Dina Naomi... Nama yang tidak asing ditelingaku. Mataku membesar aku langsung berdiri dan berlari untuk mengambil cangkul yang berada di ujung halaman itu.
MASA!!?
JANGAN-JANGAN...!!!
BELA ! DIANA!
"Kumohon! Kumohon!" Teriakku sambil mencangkul tanah tepat diarea papan itu tertancap. Ternyata itu adalah KUBURAN !? Jangan bilang Bela dan Diana ada didalam tanah ini!!!? Aku dengan cepat dan kuatnya terus mencanngkul- mencangkul tanah itu.
KRAK!
Hah? Ba-bagaimana bisa...?
Aku mengangkat cangkulku dan menjatuhkannya disamping tanah yang kulihat ada jasad temanku, Diana. Air mataku menetes seolah, aku tidak percaya dengan semua ini. Dengan tangan yang gemetar aku mengambil cangkul yang secara tidak sadar kujatuhkan tadi dan mulai menggali kuburan Bela.
Ternyata memang benar..... dibalik tanah yang sebelumnya kuinjak. Terdapat dua teman kamarku yang sudah terbunuh.. Bela dan Diana...yang membuatku semakin merinding adalah... jasad mereka sudah hancur. Terutama pada bagian wajah. Sama persis, dalam mimpiku. Seperti sang boneka. Bela dengan mata kanan yang berlubang. Sedangkan, Diana dengan wajah yang setengah hancur.
Lantas...
Si-siapa?
Siapa?
Teman-teman yang menemaniku selama 3 hari setelah retreat dan, mengapa aku disini? Masa? Aku tidak mungkin membunuhnya!! Tidak mungkin AKU! Mereka adalah temanku yang sudah mau mencarikan sifat pendiamku dan itu yang menjadi salah satu 'penyakit'ku! Aku masih sadar kan!? Aku tidak mungkin membunuh 'obatku'!!!
Aku berlutut dan berteriak. Sedih, kesal, marah, sesekali aku memukul-mukul tanah. Karena tidak menerima keadaan yang terjadi. Eh? Apa ini? Aku memegang kantong celana kiriku, seperti ada benda dialamnya.
Pisau.. da-darah...
Pi-sau... ??
Tunggu... tadi dikasur ada darah yang kukira itu adalah menstruasi. Tiba-tiba, aku seperti menyadari sesuatu. Dengan cepat aku berlari bergegas ke ruangan kamarku. Kasur ! kasur! Darah! Pisau!!! Dibatinku hanya terdapat kata-kata itu yang terus berputar dipikiranku.
Tanpa basa-basi. Aku langsung mendobrak pintu kamarku. Memperhaatikan ruangan itu dengan teliti sambil memegang pisau yang sudah berlumuran darah disaku celanaku tadi. Kenapa?! Kenapa aku tidak menyadarinya!
Corak dinding yang khas. Bunga merah yang berantakan... Aku mendekati dinding kamar ini. Perlahan jariku mengoles, mengesek corak itu dan ternyata...
"DARAH?!"
Semua corak di dinding ini adalah darah!? Aku mencoba mengeseknya berkali-kali sehingga, corak itu tidak berbentuk dan ternyata itu semua adalah darah!!? Kenapa aku tidak menyadari nya!?
Dan... bukannya nama dipapan itu adalah Ella dan Dina? Mengapa aku memanggil nama mereka dengan Bela dan Diana? Jelas-jelas itu bukan nama panggilan mereka. Namun, yang jelas mereka adalah orang yang sama. Aneh, lalu.. siapa yang menemaniku selama ini!? Dan.. kenapa aku bisa dirumah ini!? APA YANG SEBENARNYA TERJADI!?
Ha..ha..
Hahahahaha...
HAHAHAHA....
AHAHAHAHAHAHAHAHAAHHAHAHHAAHAHAHA LUCUNYA....
Ku tahu, pasti kamu kebingungan kan?
Baik, baik. Biar kujelaskan.
Pertama! Sebelumnya.. jika kamu membaca catatanku ini dengan jeli. Pada awal-awal, aku pernah memberitahu bahwa, aku sudah beberapa hari selama retreat. Padahal, retreat hanya 3 hari dari tanggal 1 sampai tanggal 3.
Namun, memang aku ini begitu sudah mencintai suasana retreat. Sepertinya 3 hari itu, tidak cukup untukku. Jadi,, waktu perjalanan pulang di bus. Aku sebenarnya, tidak ada niatan untuk membunuh hampir semua seisi bus. Kurasa ini, salah supir bus itu.
Aku hanya menggunakan pistol air mainan yang airnya sudah kuisi cairan panas sulfur dan kutembakan ke mata si supir. Nah! Bodohnya sang supir malah tidak bisa mengontrol bus itu sehingga, membuat seisi bus ini jatuh ke jurang.
Ckckckkck... parahnya...
Namun, aku sudah siaga dengan memprediksikan semua kemungkinan yang terjadi. Ah,, sudahalah intinya, aku bisa menyelamatkan Ella dan Dina dari kecelakaan itu dan membawa mereka ke rumah tua ini.
Yap, jauh dari lingkungan masyarakat. Awalnya, Ella dan Dina ketakutan dan tidak mau ikut denganku. Namun, aku menyakinkan bahwa aku ingat dulu ada rumah tua disini. Lebih tepatnya, ini adalah rumah orangtua asuhku yang dulu merawatku. Namun, mereka meninggalkanku.
Ya, lebih tepatnya mereka mati terbunuh karena aku lapar.
Lanjut.
Ella dan Dina memang adalah teman sekamarku dan aku sangat senang sekali kami bertiga sudah bisa dekat karena retreat ini. Banyak orang yang tidak suka dengan sikap pendiamku ini. Padahal, jujur aku diam untuk tidak menyakiti mereka.
Bersama Ella dan Dina. Aku merasa nyaman dan aku mempercayai mereka. Sewaktu, kami dirumah ini aku menceritakan semuanya termasuk mengenai orang tua asuhku yang sudah kumakan dan kukubur di halaman belakang.
Kurasa, disitu kesalahan besar yang kulakukan. Harusnya aku tidak mempercayai mereka. Mereka malah takut denganku. Padahal, aku sudah mempercayai mereka. Selama ini aku kesepian. Aku perlu kebahagian dan itulah yang kuanggap sebagai 'obatku' untuk menyembuhkan 'penyakit'ku ini.
Tatapan mereka yang awalnya sudah menerimaku. Malah, berubah menjadi tatapan orang yang ketakutan melihatku. Aku merasa terkhianati.
Karena kesal dan amarah orang sudah terkhianati. Akupun membunuh mereka dengan Ella yang mata kanan kutusuk karena sudah menatapku dengan tatapan kebenciannya. Sedangkan, Dina dengan wajah yang setengah kuhancurkan karena terus-terusan untuk kabur dan berteriak.
Peralatan untuk melakukannyapun sederhana. Seperti ya.... pisau, kapak, palu, paku, bor, dan gergaji. Setelah puas. Jasad mereka bernasib sama dengan orangtuaku. Dikubur dihalaman rumah tua ini. Seolah menggantikan kedua jasad orangtuaku. Aku menggunakan papan orangtua asuhku untuk menulis nama mereka. Kuanggap mereka seperti tamu dirumah ini.
Itu sebabnya, papan kayu itu sudah hampir mau rusak karena sudah tua. Sayang sekali, padahal aku sudah sangat senang mereka berkunjung kerumahku ini dan menjadi tamu pertama dirumah ini.
Namun, tetap saja aku tidak terima dengan kepergian mereka. Disatu sisi aku kesal karena sudah dihianati. Aku akan terus menganggap mereka ada. Karena sudah memberikan kebahagian itu walau hanya sebentar.
Mungkin, bagi kalian yang sering mendapatkan 'kebahagiaan' tidak akan mengerti. Bahwa, hal-hal yang sederhana itu sangat berarti bagi orang sepertiku. Ella dan Dina ingin berteman denganku dan masuk dalam kehidupanku. Menurutku, itu sangat menyentuh sekali. Aku tidak mau kehilangan mereka.
Tapi.
Memang, jika seseorang yang sudah terlalu sayang. Ketika, berubah akan berubah menajadi benci. Sesuai dengan lawan kata 'cinta' yaitu 'benci'. Huft! Tidak apa. Mereka sudah mendapatkan pelajaran mereka.
Oh ya.
Kamu tidak lupa kan?
Kalau aku ini hobi melukis. Ketika aku sedang sedih atau stres biasanya aku menuangkannya dengan lukisan yang kubuat. Sambil melukis. Sambil menyalurkan perasaan. Rumah tua ini tidak ada peralatan unutk melukis.
Fufufufu.
Kamu sudah tahu ya?
Waktu itu.
Setelah aku kenyang. Aku juga melukis dirumah tua ini. Dengan menggunakan warna cat putih dan sebatang kuas. Tentu, sama seperti tadi yang kubilang. Dirumah tua ini tidak ada cat. Kamu tahu warna cat putih aku dapatkan darimana?
Tulang.
Habisnya, jasad orangtua asuhku hanya tersisa tulang saja. Sedangkan, hatiku ini sedang sedih, stress dan penuh dengan amarah atas perlakukan mereka terhadapku. Aku... benar-benar disiksa. Dan terlalu menyakitkan jika aku menceritakannya kembali disini.
Aku sedih aku harus memakan mereka. Aku marah karena aku dikurung selama beberapa hari. Aku stress dengan keadaanku. Aku lapar.
Dan.
Sebenarnya, aku memang ingin menggunakan warna putih alias tulang mereka untuk menjelaskan perasaanku yang masih ambigu. Aku kesal dengan perlakuan mereka namun, disatu sisi aku takut dengan orangtua asuhku. Disisi lain juga, aku sedih karena sudah memakan mereka dan aku juga merasaa bersalah.
Hmm..
Mungkin, peristiwa itu yang membuatku menjadi sosok yang pendiam.
Lalu, untuk yang kali ini. Untuk kedua kalinya. Aku juga melakukan hal yang sama. Yaitu aku perlu melukis unutk menenangkan perasaanku. Di kasus Ella dan Diana aku memerlukan warna merah yang menunjukan rasa penuh amarah karena sudah dihianati.
Merah sama dengan-
Darah.
Rasa kesal memang ada. Kecewapun juga ada. Namun, aku juga menghargai kehadiran mereka. Maka, aku menggambar corak bunga dikamarku. Sebagai kenangan mereka pernah menjadi teman 'sekamar'ku waktu retreat.
Itu sebabnya, aku melukis bunga dengan warna merah. Kurasa itu yang sesuai dengan perasaanku. Aku tidak ingin melupakan mereka. Namun, aku tidak akan lagi mengingat nama mereka sebagai Ella dan Dina.
Aku benci mendengar nama itu.
Maka, aku akan mengingat mereka dengan nama lain. Namun, tetap mirip dengan nama mereka yaitu Bela dan Diana. Disini aku juga membuat nama persahabatan kami bertiga.
Hmm... sekilas memang terdengar seperti nama panggilan biasa.
Bela.
Diana.
Bela Diana
Tapi itu adalah nama persahabatan kami. Bela Diana. Kurang jelas ya? Baiklah. Bagaimana jika aku menulisnya dengan begini :
Be-la Di-a-na
Masih kurang jelas? Kalau begini?
BelaDi – ana
Cobalah baca dengan perlahan.
Be-la-Di-ana
BelaDi ana
BLOODY ANA
Hm... aku sedikit gugup.
Perkenalkan, namaku adalah Ana. Pemilik rumah ini.
Maukah kamu bermain dirumahku?
Ku sudah tahu jawabanmu.
Pasti kamu menolak kan?
Fufuufu... Padahal aku sudah mempercayaimu.
Hmm..
Warna apa ya, yang bisa kuambil dari tubuhmu?





Comments