top of page
Search

Kota 'Segaris' untuk Masa Depan

  • Writer: Yelina Khosasih
    Yelina Khosasih
  • Aug 30, 2022
  • 9 min read

"The Line adalah solusi dari Smart City yang bisa dicapai dengan satu ruang panjang di Neom, Arab

Tahun 2022 kita masih bisa hidup dengan baik. Tapi, apakah akan sama untuk 10 atau 5 tahun kedapan? Namun, yang perlu diingat disini adalah yang hidup di Bumi, ga cuman kita aja. Tapi, semua manusia. Pertanyaannya, "Apakah mereka mendapat kualitas hidup yang sama?" Enggak. Banyak isu global yang memang perlu kita khawatirkan. Terlepas dari kemiskinan, fokus yang gue bahas disini itu tentang isu lingkungan hidup dan anak-anaknya. Polusi, perubahan iklim, populasi, penipisan sumber daya alam, pembuangan limbah, kepunahan keanekargaman hayati, pengasaman laut, penipisan lapisan ozon, hujan asam. Hufftt,,, banyak ye. Tapi, memang itu isu besar dan setiap Negara sedang berusaha untuk memperbaikinya dan salah satu solusinya adalah dengan 'memperbarui' kota menjadi "smart city".


Antara Manusia, Alam dan Kota

Sebelum kita membahas terkait proyek The Line. Ada hal-hal yang ingin gue bahas dulu tentang perubahan hidup kita karena perkembangan zaman dari inovasi sains, teknologi dllnya. Salah satu yang paling berdampak besar dalam kehidupan manusia tanpa disadari atau tidak adalah penataan kota. Karena itu yang menjadi binaan lingkungan sekitar masing-masing dari kita. Jadi ada pola penataan atau perencanaan yang terorganisasi untuk sebuah kota dalam membangun sarana dan prasarannya. Kek jalan, taman, tempat usaha, dan tempat tinggal. Nah, tiap Kota punya model tata Kotanya masing-masing.


Contoh Chicago, sebagai the "most orderly streets" jadi, kaya tata kotanya bener-bener model grid yang disiplin dan teratur. Tapi, apakah itu menjawab sebagai kota yang "Liveable"? Jawabannya ngak. Karena yang paling liveable cities itu Copenhagen di Denmark.


Copenhagen sebagai Kota yang paling layak dihuni tahun 2022. Tidak menggunakan tata kota Grid seperti Chicago. Artinya, lingkungan yang layak huni bukan terkait seberapa rapi, teratur atau disiplin tatanan kotanya. Tetapi, bagaimana tata kota itu menyelesaikan solusi dari setiap permasalahan manusia yang menempati wilayahnya.


Tata kota model Grid yang banyak ditemukan di Kota-Kota Amerika seperti Chicago, Seattle, Denver dll. Kenapa? Karena model grid lahir dari faktor sejarah. Amerika berpikir bahwa hal yang perlu dihighlight dari kota adalah simple dan merepresentasikan sistem demokrasi, rapi, teratur dan efiien dalam pengelolahan lahan dan ekonominya. Tapi, mereka tidak tahu bahwa kedepannya akan muncul invoasi kendaraan yang menjadi bagian dalam kehidupan manusia hingga saat ini. Perlu diingat kalau tata kota itu sudah dibangun sebelum munculnya kendaraan mobil pada tahun 1908 yang jadi isu khusus.



"Lah, Kenapa mobil jadi masalah? Justru itukan inovasi yang bagus banget karena memudahkan manusia untuk mobilitas dllnya. Bahkan, sekarang mobil juga udah jadi bagian dari manusia. Bahkan, bisa jadi kebutuhan bagi seseorang."


Iya bener. Tapi, itu jadi masalah pada saat itu karena belum ada standar khusus untuk jalanan. Dengan tata kota grid. Dimana, banyak mempertemukan 4 perpotongan jalan itu jadi salah satu penyebab banyak kecelakaan mobil pada saat itu. Perempatan sebenarnya memang mempermudah pejalan kaki untuk berjalan ke satu tempat ke tempat lain kaya cukup dengan menyebrang ke a,b,c,d. Nyampe. Tapi kehadiran mobil justru membahayakan pejalan kaki. Dengan jalan yang rapi, kendaraan akan bergerak lebih cepat dibandingkan jalan yang melengkung atau berliku. Intinya, tata kota grid jadi ga aman untuk manusia.

......dan untuk alam juga.



Untuk membangun Grid metode yang harus dilakukan itu dengan ngeratain tanah wilayah itu, Jadi tanah yang memiliki berkontur itu diratain, baru dicor, disemen, diaspal. (Ngomong berasanya gampang banget ya kwkw) Nah, masalahnya disini adalah kalau cuacanya lagi hujan jadi kurang banget penyerapan tanahnya karena udah didominasi sama aspal kan. Ya, jadinya banjir TwT.


Belum lagi, tata kota grid itu lebih banyak menghasilkan energi panas. Nah, "Kenapa lagi?" wkwkwk. Kan gitu pertanyaannya. Alasannya, ada masalah di sirkulasi udaranya. Udara susah berflow (kan banyak kehalang sama bangunannya juga). Tapi, disini tuh lebih ke orientasi si udara dan sirkuasinya yang justru disisi lain, malah menjebak udara panas didalam tata kota grid. Hasilnya, ada isu lingkungan.



Oke gue tahu, "Pembahasannya kok belum sampe ke topik The Line ya?" Sabar, ada alasan kenapa gue bahas ini dulu. Karena dari satu model tata kota kita bisa belajar banyak. Minum aqua dulu biar fokus lagi kwkwk. Oke lanjut. pengaruh negatifnya ga berhenti disitu aja. Tapi, ini yang jadi hal penting yaitu berpengaruh ke mental atau psikis manusia jadi lebih sedih dan stress.


Pertanyaan yang sama "Kenapa?" wkkwkw. Tiap orang kan punya tekanannya masing-masing (tekanan kerja, orangtua, masalah lainnya). Belum ditambah masalah kemacetan, dan hubungan dengan sekitar lingkungannya yang kurang. Seolah disekelilingi bangunan yang sama dengan urutan tempat yang sama dan tatanan yang "Rapi". Plus, orang lebih banyak menemui dan 'hidup' bersama mobil-mobil. Hal-hal kaya gitu mungkin ga disadari juga memberi pengaruh pada psikis kita. Orang yang hidup dilingkungan yang jarang ada mobil dan lebih banyak pesepeda atau pejalan kaki. Tentu, ruang itu seolah lebih 'hidup' dibandingkan bersama kendaraan dengan asap-asapnya. Karena dengan lebih banyak orang akan lebih banyak kemungkinan untuk mereka saling berinteraksi.




Dari sini, kita dapat belajar bahwa 'susunan' kota sudah pasti mempengaruhi aktivitas kehidupan manusia didalamnya. Tapi, gak cuman berhenti mempengaruhi ke manusia tapi juga ke alam. Bahkan, lu pasti sering denger kalimat ini kan "Jangan lewat gang. Apalagi pas malem." atau "Eh terowongan X mah ga aman banyak orang minum-minum, ngerokok, jual beli narkoba. Hindarin deh." dan ga jarangkan kita menemui kasus-kasus kejahatan di area tertentu. Semua hal pasti memberi dampak negatif ataupun yang positif. Apalagi, "Kota" yang sangat diperlukan pengkajian yang lebih jauh, dalam, namun juga sangat ditel. Karena kita perlu menjawab setiap permasalahan yang ada dan kompleks.


Terus diperbaiki

Namanya juga manusia pasti setiap kekurangan akan diperbaiki. Salah satu poin penting dari kasus tata kota grid adalah kurang saling menghubungkan satu sama lain. dan memicu kecelakaan lalu lintas dan ketidaknyamanan bagi pejalan kaki. Di tahun 1930 dibentuklah ITE (Institute of Transportation Engineers) yang membuat standart untuk jalan dan bangunan industri. Hasilnya, jalan dibuat dengan menerapkan loops (Lingkaran) dan cul da sacs (Kuldesak) kaya jalan buntu gitu. Tujuannya biar kendaraan juga bisa berjalan lebih slow. Terus, kalau ada perpotongan jalan kaya perempatan, pertigaan gitu. Pake yang model "T intersections" jadi yang perpotongan grid itu dihindarin, dan jalan bisa dibikin ga selalu lurus tapi kaya ada pemutusan gitu.

Model jalan kaya gitu dibikin untuk mobil (kendaraan). Bukan untuk pejalan kaki sehingga, ini juga memicu masalah untuk pejalan kaki yang ingin menempuh satu titik lokasi ke lokasi lain karena jalannya jadi panjang. Beda sama grid justru yang lebih dimudahkan. Dari sini, diperbaiki lagi sehingga solusinya bisa digabung antara dua model itu. Memberi kenyamanan dan keamanan untuk pejalan kaki, pesepeda, dan untuk kendaraan.


Gue sebenarnya ga mikir penjelasan ini bakal jadi sepanjang ini sih, wkwkkw. Tapi, thanks yang udah baca sampe sini. Sekarang kita coba lihat Kota-kota saat ini. Gue akan ambil contoh dari Jepang ya, Shibuya.


Shibuya itu pusat transportasi paling padat & sibuk. Dari satu titik kereta memiliki cabang kereta lain untuk distrik-distrik lain. Intinya, disana transportasi umum sangat difasilitasi dan diatur dengan baik untuk setiap distriknya. Jadi kalau misalnya kereta sudah nyampe udah ada bus yang siap nganterin warga mereka ke daerah-daerahnya. Hebatnya, program transportasi umum itu dipraktekin dihampir seluruh wilayah. Kebanyakan warga Jepang juga suka pergi dengan berjalan kaki sehingga sudah disediakan kebutuhan untuk pejalan kaki juga. Dari minimarket, vending machine, jalur pesepeda dllnya. Kondisi untuk pejalan kaki itu aman. Jadi secara perkotaan arsitekturnya aman dan transportasi menjadi hal yang saling menghubungkan antar manusia dan antar wilayah.




Oke cukup sampe situ dulu aja. Sekarang kita balik lagi ke "The Line"

Saya sih "No"

Setelah penjelasan panjang lebar, saatnya kita bahas The Line. Konsep Kota ini berada di Kota Neom, Arab Saudi dengan panjang 170 km, lebar 200m dan tingginya 500m. Lokasinya tepat memotong lurus gurun Neom. Fasadnya akan dibentuk dari cermin. Bentuk desainnya adalah linier blok panjang gitu. Dengan panjang 170 km mungkin, lu mikirnya untuk nempuh dari ujung ke ujung bakal lama banget. Tapi, Kagak! Lu bisa dari ujung ke ujung dalam waktu 20 menit dengan transportasi publik yang pasti cepet banget (525 km/jam). Dah itu cepet banget.


Mereka memprioritaskan sustainabillity sehingga dalam kota ini tidak akan ada mobil atau kendaraan. Menghasilkan 0 karbon emisi dan menggunakan energi yang terbaru. Penggunaan mobilitas melalui transportasi umum dan memprioritaskan manusia untuk berjalan kaki. The Line akan menampung 9 Juta residen dan untuk biaya proyek ini sendiri mencapai 1 Trililiun USD = Rp.14,8 T. Itu emang udah gede banget uangnya tapi, diperkirakan uang dibutuhkan akan lebih dari itu. Wajar sih, saat ini kan teknologi masih dalam tahap berkembang belum secanggih itu untuk membangun dan menerapkannya di Kota dalam skala besar. Belum masalah dan kebutuhan yang lainnya.


The Line terstuktur dengan 3 level. Untuk level ground (permukaan tanah) ada pedestrian zone (Pejalan kaki) dimana tidak ada jalan seperti aspal untuk kendaraan, artinya tidak ada mobil, motor dan akan dipenuhi dengan taman dan pohon-pohon agar membangkitkan semangat pada pejalan kaki. Level 2 adalah untuk zona service (Layanan) jadi disini akan ditemui berbagai toko-toko gitu. Level 3 untuk transportasi umum yang super cepat itu yang menghubungkan modul-modul kota. Biar lebih jelas bisa cek diagram potongan ini ya .


Setiap aktivitas manusia bisa ditempuh dalam 5 menit jalan kaki. Sehingga, secara ruang lingkungan sudah diatur dengan rutinitas manusianya. Kalau dilihat dari video The Line nya itu banyak dijumpai berbagai pohon-pohon yang melayang dan seolah ada disekitar setiap ruangnya. Yah, ini juga dipertanyakan sih. Sudah sampaikah kita dengan teknologi sehebat itu? Sebenarnya, juga ada masalah baru. Gimana caranya dapat cahaya matahari untuk semua bagian dalam Kota yang punya ketinggian 500 m ??


Gue tahu, gue menilai ini dengan kesan yang negatif. Tapi, emang itu pendapat gue :"D. Gue memepertanyakan "Apakah bentuk Kota seperti itu adalah paling oke untuk sebuah kota?" Mungkin, emang bener salah satu solusi arsitektur dalam mengatasi penduduk yang semakin banyak jumlahnya dengan membuat modul. Tapi, rasanya melihat model Kota kaya gini hmmm berarti solusinya nanti tinggal nambahin modul yang artinya makin panjang garisnya :3?


Seperti gambar diatas nih. Kalo dipikir-pikir lagi, Itu pepohonan, taman, rumput paling bisanya tumbuh dibangunan paling atas ga sih? yang permukaannya emang kena langsung sinar Matahari. Kalo emang bener gini. Siapa yang bakal tinggal dizona itu :D? (Yah, paling orang kaya.) Masih tentang sinar Matahari, perlu diingat bahwa Neom itu dikawasan gurun. Artinya, panas banget. Setelah mengoogling..


Oke,, suhunya maxnya 37 derajat Celcius. Walaupun, gue agak ragu karena gue mikirnya lebih tinggi suhunya. Tapi, yauda gapapa karena itu yang kasih datanya dari Neom Weather, badan Perusahaan resmi. Lanjut. Terus apa masalahnya? Masalahnya, yang mereka pake itu fasadnya dari cermin. Merefleksikan cahaya. Artinya bikin suhu disekitarnya semakin panas :>.



Gue juga ss dan highlights bagian kalimat yang mereka mau save humanity, terus juga pentingin nature (...). azzaffgdhfhak*&^%$#@


Kalau emang mau pentingin humanity. Bukankah seharusnya lebih baik memberi solusi untuk masalah disana saat ini? Dibanding, bener-bener bikin Kota baru? Lagian kan, udah ada populasi yang hidup disana. Terus mereka nanti langsung dipaksa masuk ke dalam The Line ini? Kalau melihat dari karakteristik masyarakat Arab juga. Ini penilaian yang subjektif sih.. Karena gue juga bukan warga sana. Tapi, kalau dilihat dari budayanya, mereka sepertinya lebih membutuhkan ruang yang lebih besar yang memperlihatkan langit (alam juga) tetapi disatu sisi juga perlu privasi yang ketat. Nah, apakah di dalam Kota ini memberikan hal ini?


Kedua tentang nature itu. Kalau emang fokusnya untuk Green technology & untuk sustainabillity yang artinya untuk menjaga si habitat alamnya. Apa yang mereka lakukan itu bertabrakan banget dengan hal itu. Mereka jelas-jelas langsung motong sitenya dari ujung ke ujung dengan bentuk desain "garis" kek gitu. Bener -bener motong + fasadnya cermin lagi. Bukannya malah bikin, hewan disekitarnya nanti kebingungan ya? AH, ga cuman itu. Dengan ketinggan 500 m itu juga ganggu burung-burung.


Perpotongan jalan kaya gitu ditengah lingkungan alam (disitu keknya sih hutan ya) justru malah bisa berpotensi hewan sulit bermigrasi, dampaknya membatasi keragamaan genetik. Bisa aja kawin sedarah terus ujung-ujungnya jadi masalah genetik juga. Lagian, kalau emang mau fokus ke alam juga. Seharusnya kan, mereka menggali potensi yang ada disana dan gimana caranya supaya lingkunganya tidak 'dilukai' tapi disatu sisi juga memberi dampak positif buat manusia.


Semua balik lagi tentang Solusi

Intinya dari bentuk rigid garis kaya gitu ngak memberikan solusi untuk masalah lingkungannya. Terus gimana untuk manusianya? Hmm,, jujur aja gue gatau yah, apakah dengan desain dan tata letak yang udah diatur demikian dari Kota itu bisa membuat kondisi manusia dari segi psikologi dan sosial akan lebih baik? Gue ngebayangin gue ada didalam ruang dengan setinggi itu. Kaya berasa dikurung dan gue ga bisa lihat langit dengan bebas dalam artian gue ga bisa lihat langit dengan luas karena udah ada modul-modul ruang lain. Terus, semua rasanya akan sama. Ngak ada lingkungan yang berbeda-beda karena layoutnya udah sama semua.


Misal, gue gedeg disini terus gue mau ke pantai tapi ngak bisa. Atau gue mau sekedar main sepeda tapi ngak bisa. Gue juga ga mau tinggal ditempat kaya gitu. Belum siap juga. Kaya keberagaman suasana tempat itu hilang. Seolah Kota versi perumahan :"D.



Padahal untuk membangun Kota itu kompleks. Bahkan, banyak banget aspek yang saling berpengaruh. Dari jalan, inovasi, kendaraan, perkembangan zaman, psikologi manusia, sosial, isu kesehatan, lingkungan dll. Kita bisa belajar dari penjelasan sebelumnya tentang tata kota Grid, belajar dari transportasi publik di Kota-kota Jepang. Setidaknya, mereka berusaha mencari solusi untuk memperbaiki masalah-masalah yang ada dalam kota mereka.


"Terus solusi lu apa dong?"


Solusi gue? Tentu, gue hanya bisa menyarankan wkkwwk sarannya perbaiki apa yang perlu diperbaiki dengan masalah yang ada disana saat ini. Dibanding harus seolah-olah bikin baru dan maksa warga untuk masuk ke Kota itu. Bahkan, kalau KALAU, JIKA, SEANDAINYA niatnya emang untuk rakyat NEOM dan isu lingkungan alam. Seharusnya, itu yang bisa dilakukan. Karena dengan The Line ini, justru kaya.... bisa aja ada tujuan atau intensi lain. Bukan mau nethink tapi emang bisa aja ada kemungkinan itu. (misal supaya pemerintahnya bisa bertahan lebih la- Gakla~ mungkin buat pamer aja) :D


Kita ga bisa selesain masalah, tanpa kenal masalahnya. Kita ga pecahin akuariumnya. Tapi, kita perbaiki air didalamnya. Maka, ikan jadi lebih sehat dengan rumah yang sama.


Yaah,, semoga anda paham dengan maksud saya. Ga nyangka jadi sejauh ini pembahasannya. Thank you yang sudah baca sampai di kata ini. Have a nice day ^^

 
 
 

Comments


bottom of page