Bukan Asal Corat-Coret
- Yelina Khosasih
- Apr 30, 2022
- 7 min read
Updated: Aug 29, 2022
Earth without art is just eh.

Kata Pengantar
Topik disini akan membahas tentang hal-hal yang berhubungan sama seni rupa. Nah, apa itu Seni rupa...?
.....
....
....
Ngak,, ngak,, ga. Pembawaan kaya gitu bikin kesannya tulisan ini berasa berat dan kaku. Padahal, gue bukan guru, apalagi dosen. Cuman, orang biasa yang emang mau bahas topik-topik yang menurut gue menarik aja. Jadi, disini gue juga ga akan ngebawainnya kaya batu bata. (maksudnya kaku* iya tau garing :> wkwk).
Oke lanjut. Ngomongin tentang seni itu bisa luas banget. Seni itu ga melulu ngomongin tentang seberapa hebat, terkenal atau keren karya atau penciptanya. Kenapa seni itu luas banget? Karena tiap manusia punya pemikirannya masing-masing. Tiap kepala beda isi, beda cerita, beda makna. Tiap Interprestasi punya keunikannya sendiri. Setiap karya ngak ada sesuatu hal yang bener-bener absolut satu makna. Menurut gue, itu yang bikin jadi menarik karena kita diberi kebebasan untuk memaknai tiap karya dan itu ga salah. Bisa jadi satu-satunya kebebasan yang kita miliki itu adalah interpretasi kita terhadap karya seni.
Udah, cukup sampe situ aja kata pengatarnya. Sekarang gue mau bahas tentang seni yang lu sering dengar yaitu, "Seni Rupa Modern". Tapi, gue akan spesifik bahas tentang Conceptual Art.
Ini kan, Pisang doang?

Apa yang spesial dari foto pisang diatas ini? Apakah dari perpaduan warna kuningnya dan silver dari lakban? Atau,... proposi antara pisang dan lakban yang "harmoni"? Entahlah, dari sebuah pisang yang ditempel, apa yang bisa kita apresiasi dari karya ini?
Karya? Iya, itu karya seni dan dipamerkan di Pameran Art Basel, Pantai Miami Amerika Serikat dan terjual dengan harga 1,7 M :D. Nilai yang fantastis. Mengingat hasil karya dari Pisang & Lakban wkwkwkw dan sudah pasti, banyak juga yang berkomentar kaya "WTH?!" atau "Itu cuman pisang yang ditempel aja sampe dibeli 1.7 M?!"
Tapi, yang jadi pertanyaan pentingnya adalah apa maksud dari karya ini? Apa makna dibalik Pisang & Lakban itu? Apa pesan dari si seniman? Disinilah, yang perlu kita kaji lebih dalam melihat karya ini tidak sebatas dari objeknya saja. Oke. Kalau gitu, apa patokan menilainya? Pertama-tama, ya kenalan dulu sama karyanya.
Judul karya : Comedian
Jenis artnya : Conceptual art
Senimannya : Maurizio Cattelan
Tahun dibuat : 2019
Emang menariknya seni konseptual itu, dia punya cara pandangan dan menilai yang cukup berbeda dibandingkan sama aliran seni sebelum2nya. Gini,, kalau kita lihat lukisan Monalisa itu karya yang sangat terkenal dan bisa dibilang itu di"wah"kan banget. Monalisa bisa dinilai dari sejarah, cerita dan tekniknya yaitu sfumato yang dibilang sangat tinggi untuk ukuran zaman saat itu, tahun 1503. Teknik yang dipake Leonardo Da Vinci dalam melukis Monalisa yang membuatnya terlihat begitu realistis. Sebagai wawasan baru aja, teknik Sfumato itu teknik mewarnai lukisan dengan menggunakan beberapa lapisan cat transparan supaya dapet efek gradasi shading dan highlight yang benar-benar halus. Nah, dari Monalisa kita bisa menilai teknik, estetika, cerita, narasi dan storynya, + faktor lain juga. Hal ini, juga berlaku sama sama lukisan-lukisan per-era.
Tiap era dalam aliran lukisan itu juga punya maknanya masing-masing. Rennaisance, Romantisme, Realisme, Impressionisme, Surrealisme, Ekspresionisme, Kubisme dllnya. Tiap aliran punya cara pandang yang berbeda. Tapi, bagaimana dengan Conceptual art? Conceptual art itu karya seni yang lebih memprioritaskan ide dibaliknya / konsepnya dibandingkan bentuknya (visual fisiknya).
Kenalan dulu
Untuk menilai Comedian, kita harus mencoba mengerti tentang karya ini sesuai konteksnya serta latar belakang sejarahnya. Kita bisa mulai kenalan dari senimannya, si Pak Cattelan. Kalau kita lihat dari karya-karya beliau. Cenderung, mengarah ke humor, satir dan provokatif dalam menyampaikan pesannya melalui karya atau instalasinya.
Disini gue masukin dua karya yang gue suka dari dia ;
Him | 2001

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu"
Patung Adolf Hitler yang sedang berlutut dan berdoa memohon pengampunan. Bisakah kita mengampuninya, memaafkannya dan mendoakannya? Karya ini seolah menjadi tantangan buat kita untuk mengampuni sosok Adolf Hitler atas segala perbuatan yang telah ia lakukan. "Sanggupkah kita?" "Sanggupkah dunia memaafkannya?"
2. America | 2016

Itu toilet yang terbuat dari 18 karat emas terus bisa berfungsi layaknya toilet biasa. Karya ini, dipajang di Museum Guggenheim Bilbao dan diberi judul "America". Pas denger judulnya "America" gue mengartikan karya ini sebagai sindiran kesombongan America. Mereka kaya tapi untuk pencucian uang dari kapitalisme mereka, disalurkan melalui pasar seni. Uang sebanyak itu, digunakan untuk sebuah toilet emas 18 karat yang mau seberapa mahalpun, mau sebagaimanapun disamarkan. Bau kotoran didalamnya tetep tercium.
Ini ada beberapa contoh karya Cattelan yang lain. Silahkan deh, lu interpretasiin sendiri wkwkwk
Semua karya Cattelan ini adalah Conceptual Art. Kalau kita lihat, bentuk dari seni konseptual bukan suatu hal yang pasti. Maksudnya, kaya misalnya karya seni sebelum modern itu punya satu format bentuk kaya lukisan atau patung gitu. Terus, karya seni konseptual itu bisa dibikin bukan langsung dari senimannya. Kalau Monalisa, dilukis oleh Leonardo Da Vinci. Tapi, karya America yang toilet itu, bisa aja dibikin sama tukang wkkwkw. Conceptual Art itu dibikin dari objek sehari-hari yang bisa menjadi makna baru.
Pencetus Conceptual Art
Gue bahas sedikit tentang sejarah Conceptual Art ya, singkat aja. Ceritanya, di tahun 1917 ada pameran tahunan "The Society of Independent Artists" dengan judul penggelaran seninya "No Jury - No Prizes" - intinya didalam pameran ini lu boleh nampilin karya seni apapun. Nah, Marcel Duchamp berperan sebagai salah satu directornya. Diem-diem dia, masukin karyanya yaitu toilet dengan tulisan "R.Mutt" (sebagai nama pemilik karya tersebut) sama tulisan tahun 1917. Tapi, ditolak. Alasan ditolak karena dianggap tidak bermoral, absurd, & objek sehari-hari. Padahal, "Katanya, nerima karya apapun". Duchamp marah dan cabut dari Society of Independent Artists dan nerbitin jurnal yang membahas soal kasus itu :).
Apa yang dia bahas di Jurnal itu? Gue ambil poin pentingnya ya ;
Ga penting, seniman yang membuat karyanya atau bukan. Seniman boleh memilih objek yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari idenya (He choose it).
Objek karya diambil dari objek sehari-hari dengan hilangnya fungsi asli dari objek tersebut dan membuat ide baru terhadapnya.
Memunculkan interpretasi terhadap objek tersebut.
Nah dari sini, jadilah akar dari seni konseptual yang kemudian, berkembang sampe sekarang.
HAHAHA
Balik ke Comedian. Jadi, Cattelan itu ga bikin si pisang & lakbannya. Dalam artian, dia ga memproduksi atau menciptakan si pisang & lakban. Tapi, dia memilih objek itu untuk menyampaikan idenya. Dia menghilangkan fungsi pisang sebagai makanan tapi memberinya makna baru dengan judul "Comedian" yang artinya bebas kita interpretasikan.
Pas Comedian dipamerin, David Datuna, seorang art performance dia dengan santainya makan pisang itu di Museum yang bikin orang disekitarnya pada saat itu terkejut dan heboh gitu. Tapi, dari pihak galerinya gimana? Panik ga? Ya, ngaklah. Mereka nyari pisang baru, ya tempel lagi sesuai sama panduan dari Cattelan. Beda kasus, kalo Monalisa yang dilempar kue. Langsung bubar semua kali itu.
Kenapa dibeli senilai 1,7 M? Sebenarnya, jawaban paling basicnya karena ada kesepakatan antara sipembeli sama penjual aja sih. Bukan masalah, harga pisangnya itu mahal banget atau lakbannya yang mahal. Tapi, yang dibeli itu ide dan konsepnya dan dibuktikan pake "Proof of Authenticity" Jadi dapet intruksi, cara bikinnya, majang di galleri dapet hak untuk nampilin karya tersebut.
Perlu diingat kalau kita itu harus menilai sesuai dengan konteksnya. Jadi, kalau pertanyaan kenapa bisa semahal itu? Balik lagi. Konteksnya ini tuh di seni. Kaya ini bisa disebut dengan karya karena dilingkup seni, dibikin oleh seniman, dibeli oleh kolektor seni, dipamerkan di galleri seni dan diapresiasi & dinikmati oleh penikmat seni.
Apa intrepertasi yang gue lihat dari Comedian? Kalo gue, melihat kaya Pisang & Lakban ini emang komedian sih wkkwkw. Kenapa? Karena pas si David makan pisangnya didepan orang-orang disana. Semua orang pada kaget dan heboh gitu. Padahal, kek normal aja ga sih, orang makan pisang? Wkwkwk. Jadi, kaya lelucon aja. Mungkin, aja justru peristiwa itu jadi hiburan buat Catellan? Ga ada yang tau wkwkw. Terus lucu aja ga sih, kalo dipikir-pikir kita luangin waktu untuk pantengin sebuah pisang yang ditempel, HAHAHA
Kepo juga kan lu? Gue juga kepo makanya nyari, terus isi videonya ya dia cuman lagi makan aja wkwkw. Terus, peristiwa makan pisang itu dia beri nama perform "Hungry Artists". Oke cukup, tentang Comedian. Karena sebenanya setelah gue pikir sampe sini. Gue yang milih untuk bahas tentang sebuah Pisang ditempel aja bisa jadi bagian dari komedianya wkkw.
Coba Denger Cerita Mereka Dulu
Disini gue, mau nunjukin beberapa karya konseptual yang gue suka ya, diluar dari Cattelan tadi.
One and Three Chairs | Joseph Kosuth | 1965

Disini ada pengertian kursi secara tertulis, ada foto kursi dan kursi. "Mana yang paling merepresentasikan sebuah kursi?" Nah, pertanyaan ini meminta kita untuk memilih mana yang paling "kursi". Sejujurnya, ini pertanyaan yang deep banget lho. Mempertanyakan tentang eksistensialisme dan keberadaan in time & place. Apa kamu ditengah dunia ini? Siapa kamu yang ada disini?
2. The line above is rotating on its axis at a speed of one revolutions each day | Douglas Huebler | 1968

Douglas bikin ini karena terinspirasi dari pintu yang terbuka. Di secarik kertas, bertuliskan "Garis di atas berputar pada porosnya dengan kecepatan satu putaran setiap hari." Hmm,,,yang gue maknain dari karya ini adalah tentang bumi yang selalu berotasi pada satu poros. Bumi memang melakukannya setiap saat secara sains dan perannya. Tetapi, akibat dari berputarnya poros itu menyadarkan kita tentang waktu sekitar kita yang berjalan dari menit ke jam, ja ke hari dan hari-hari berlalu. Bagaimana kita memaknai setiap harinya yang terus berlalu itu balik lagi ke diri kita yang melakukan & memberikan apa kembali ke bumi. Gue gatau, lu memaknainya gimana. Tapi, kalau gue emang memaknai begitu.
3. Untitled (Perfect Lovers) | Felix Gonzalez Torres | 1987 - 1991

Apa yang lu lihat emang dua jam dinding biasa aja, dengan sinkronisasi yang sama diwaktunya. Setiap jarum waktunya dijalankan secara bersamaan, sehingga detik, menit dan jam akan bergerak dengan sinkron atau sama. Tapi, kalau lu tahu story dibalik jam ini, gue rasa lu bisa melihat dua jam dinding ini dengan makna yang jauh berbeda dari sekedar jam dinding.
Oke latar belakangnya. Karya ini dibuat oleh Felix yang memiliki pasangan bernama Ross Laycock. Sedihnya, Ross terdiagnosa AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Ditahun 1980/90an itu kalau terkena AIDS ibaratnya kaya nunggu waktu kapan kematian akan datang menjemput. Dari peristiwa tersebut, Felix yang juga terdiagnosa AIDS membuat karya ini. Menggunakan 2 jam dinding seabgai simbolisasi dua detak jantung yang saling bertedak di waktu yang sama. Namun, suatu saat akan tidak berdetak secara sinkron bersamaan lagi (Out of sync) tidak sinkron lagi terus berhenti. Pada tahun 1991, Ross berhenti berdetak (meninggal) kemudian, disusul Felix pada 1996.
Didalam karya Untitled (Perfect Lovers), Felix menyisipkan surat tentang pandangan dia terhadap waktu, cinta & kekasihnya. Menurut gue bermakna banget sih, lu coba baca aja deh.

Itu jam, lebih dari sekedar "jam dinding" :').
Afterwards
Dari conceptual art kita belajar bahwa seni akan menjadi medium kita untuk berekspresi, meluangkan emosi dan dijadikan inspirasi. Tipe seni ini tuh berbeda dan anehnya lebih "permanen" karena karya-karya mereka ga punya tantangan fisik. Kayu-keropos, besi-berkarat, lukisan - memudar. Tapi, hal-hal kaya gitu ga berlaku disini.
Ideas can last forever
Thanks for reading ^^















































Comments