top of page
Search

Bambu Runcingnya Raden Saleh

  • Writer: Yelina Khosasih
    Yelina Khosasih
  • Apr 30, 2022
  • 5 min read

Updated: Aug 4, 2022

Bedah Lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro" - Raden Saleh


Judul : Penangkapan Pangeran Diponegoro Pelukis : Raden Saleh Tahun dibuat :1857 Media : Cat minyak pada kanvas Ukuran : 112*178cm Aliran : Romantisme



Bab 1 : Latar Belakang

Kenapa memilih lukisan ini untuk dibedah?

Bagi gue, lukisan ini punya cerita historis yang menarik karena ada nilai perjuangan dan keberanian dari Raden Saleh terhadap penjajahan Belanda. Hal lain, yang menurut gue menarik adalah tentang nilai politik didalamnya. Ada ikatan emosional antara gue dengan lukisan ini. Karya ini seolah menjadi salah satu moment/gambaran yang terjadi sesuai sejarah dan membuat gue langsung mengerti, peristiwa apa yang terjadi. Melalui satu lukisan ini gue tahu itu tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro. Namun, gue bertanya diantara banyak peristiwa lain, kenapa Raden Saleh memilih untuk melukis momen itu? Momen yang seolah menggambarkan kemenangan Belanda dalam menangkap Pangeran Diponegoro.

Kenapa Raden Saleh melukis karya ini?

Kan kita tahu ya, kalo Pangeran Diponegoro itu musuh bebuyutan Belanda yang bisa bikin Belanda kerepotan. Bahkan, waktu itu sampai bikin kondisi kas pemerintah kolonial defisit. Bagi yang gatau, defisit itu intinya pengeluaran lebih gede daripada pemasukan. Oke lanjut. Nah, taktik liciknya Belanda itu lewat menipu Pangeran Diponegoro biar istilahnya 'dijebak' gitu, biar Pangeran Diponegoro mau datang ke Magelang. Si yang nipu itu Kolonel Cleerens -.-. Mereka sepakat janjian ketemuan untuk berunding. Terus, Pas pagi dateng deh Pangeran Diponegoro tanggal 28 Maret 1830. Okelah, niat awalnya kan buat berunding biar ga usah ada perang-perang lagi. Cuman, perundingan ngak jadi. Malahan, Pangeran Diponegoro dilarang balik (pulang). Belanda mempersilakan Pangeran untuk naik kereta ke Batavia. Tapi, endingnya dia diasingin ke Manado. (Emang kurang ajar -.-)

Gara-gara peristiwa itu. Momen penangkapan Diponegoro tuh jadi viral - menggemparkan dunia. Rada lebay tapi intinya, heboh gitu deh. DItebarin infonya kemana-mana. Apalage di Belandanya dijadiin siaran berita disana. Kaya akhirnya Sang pemberontak Jawa itu berhasil ditangkap.

Viral dimasanya. Momen itu diabadikan sama pelukis tersohor dunia, si Nicolas Pieneman. (Dia dibayar sama jendral De Kock) Nih lukisan beliau kaya gini :



Pada lukisan itu, Nicolas menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro yang dianggap 'gak sesuai' sama Raden Saleh.

Sebagai teman seperjuangan, Raden Saleh gak terima Pangeran Diponegoro digambarin kaya gitu. Jadinya, beliau secara pribadi melukis peristiwa tersebut setelah ia kembali ke Hindia Belanda dan kasih judulnya "Penangkapan Pangeran Diponegoro". Lukisan ini tuh, seolah menjadi bentuk balasan Raden Saleh terhadap Lukisan "Penyerahan Diri Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock" karya Nicolas Pieneman.

Bab 2 : Pembahasan

Untuk bagian ini emang rada panjang ya tapi gue mencoba untuk analisis persekmen biar lebih rapi dan ditel (Jadi tuh kalo bisa ga setengah-setangah pembahasannya :D)


Analisis Formal (buat subjudul aja, pembahasannya tetep santuy ~(˘▾˘~) :

Disini gue bakal bikin analisis dengan metode yang berbeda, yaitu dengan ngebandingin antara lukisan Raden Saleh dan Nicolas. Keduanya, angkat tema yang sama.Cuman, konteksnya yang sangat berbeda dan kita bisa lihat jelas melalui bentuk,posisi, warna, ekspresi, skenario pada lukisan mereka.

  • Dekskripsi Karya

    • Subjek : Center point dari lukisan milik Nicholas adalah pada Jendral De Kock. Kenapa? Kalau lu lihat lebih jeli posisi lampu itu mengarah tepat kebawah si jendral De Kock. Lampu itu secara halus mengarahkan kita untuk melihat ke De Kock. Sedangkan, Raden mengubah center point itu kepada Pangeran Diponegoro yang berdiri dibawah lampu.


  • Selain itu, terjadi perubahan posisi yang cukup jelas dari karya Raden Saleh. Coba lihat posisi Pangeran Diponegoro berdiri. Posisinya sejajar sama jendral De Kock. Bandingin sama karya Nicolas yang secara tersirat memberi pesan bahwa Pasukan Belanda memiliki status atau kekuasaan diatas rakyat Jawa.



  • Penggambaran ekspresi dan gestur dari setiap tokoh juga berbeda. Ekspresi Pangeran Diponegoro pada karya Nicolas terlihat murung dan lesu kek capek, sambil nyerahin dirinya. Argumen ini, makin kuat dengan tangan Diponegoro yang terbuka seolah tanda bahwa ia sudah menyerah. Jauh berbeda sama lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro", dimana Raden Saleh menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan gagahnya. Dadanya terbusung tegas dan tangannya tergenggam kuat memberi pesan kekuatan. Tetapi, disaat bersamaan tangan Pangeran Diponegoro juga ngelus wanita warga sipil disampingnya. Gestur kaya gitu nunjukin bentuk kasih sayang Pangeran Diponegoro sama rakyatnya.

Masih tentang ekspresi. Raden Saleh menggambarkan ekspresi penjajah Belanda yang kecut/bete karena mereka gak suka atas perjuangan Pangeran Diponegoro. Jendral De Kock, pada lukisannya Nicholas memiliki gestur menunjuk dengan maksud kaya "memerintah" Pangeran Diponegoro. Diubah dengan tangan yang disodorkan secara terbuka "mempersilahkan" Pangeran Diponegoro. Perubahan gestur tangan kaya gitu nunjukin betapa tingginya status Pangeran Diponegoro untuk dihormati sama Belanda. Ya,,, sisi lain kaya lebih sopan juga kan.Gak kaya lancang seperti lukisan karya Nicolas.



  • Lukisan karya Nicolas, gambarin pasukan Pangeran Diponegoro yang pake jubah Arab dan bawa banyak senjata. Kenyataannya, saat itu kan Pangeran Diponegoro datang dengan maksud berunding dan bernegosiasi. Yakali dia bawa senjata? Dia ga punya intensi untuk perang. Karena penggambarannya seolah membalikkan fakta. Raden Saleh menggambarkan kedatangan Pangeran dan pasukannya tanpa membawa senjata. Menyesuaikan dengan kenyataan cerita yang asli.



  • Ada hal yang gue temukan pada kedua lukisan mereka. Cuman, kepastiannya gue masih ragu tapi kalo lu lihat lagi, ada bagian yang gak digambar sama Raden Saleh yaitu Bendera Belanda. Persepsi gue, Raden Saleh gak sudi lukis bendera Belanda. Jadinya, pada lukisannya kita bisa lihat posisi elemen dengan posisi tertinggi itu bukan Bendera Belanda tapi, pohon yang tumbuh tinggi ditanah Jawa.



  • Masih ada ges, poinnya :D. Lu sadar ada yang kek ga proposional dari Jendral De Kock di lukisan Raden Saleh ga? Kepalanya gede bet wee wkwkw XD. Tujuannya pasti karena mau memberi pesan atas kesombongan Jendral De Kock dan para penjajah Belanda. Berbeda dengan proposi Pangeran Diponegoro yang digambarkan dengan proposional.


  • Ini poin terakhir (. ❛ ᴗ ❛.). Di lukisan Raden Saleh kita bisa melihat Raden menggambarkan dirinya sendiri (self potrait) dengan 3 sosok. Ia yang sedang sedih, sebagai saksi sejarah yang seolah mempertanyakan kebenaran dari peristiwa tersebut dan menurunkan topinya menunjukan kedukaan atas kekalahan Pangeran Diponegoro.


Melalui karya ini, kita bisa merasakan perasaan mendalam yang ingin disampaiin sama Raden Saleh. Ada emosi dalam goresan lukisannya. Kalau dikelompokin, ya lukisan ini termasuk romantisme. Karya yang merepresentasikan perasaan yang mendalam.


Terus, apa yang terjadi habis itu?

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro ini, diserahin ke Raja Belanda William III, sebagai bentuk hadiah dari Raden Saleh. Hah? Kok gitu? Iya, soalnya Raden Saleh itu kan mengembara pendidikannya di Eropa dan yang membantu subsidinya selama 23 tahun itu si Raja William III ini. Jadi dia kasih lukisan ini kaya sebagai tanda terima kasih.


Bab 3 : Kesimpulan

Awal gue tertarik sama lukisan ini, karena gue ingin tahu alasan Raden Saleh menggambarkan peristiwa itu. Peristiwa kejatuhan Pangeran Diponegoro. Dari hal itu aja, sebenarnya bisa nimbulin pro dan kontra mengenai maksud Raden Saleh.


"Dia itu pro Belanda ya? Kok ngelukis momen sejarah kemenangannya Belanda sih? Terus dihadiahin ke Raja Belanda juga. Padahal dia kan orang Indonesia."


Mungkin, kalimat kaya gitu bisa muncul kalau kita ga mencoba untuk mengkaji lebih dalam pelukis dan karyanya. Perlu diingat, lukisan ini dibuat pada tahun 1857. Masa dimana Indonesia masih jauh dari kata Kesatuan sebagai satu bangsa. Kenapa gue bilang gini? Karena tiap wilayah masih memperjuangkan daerah mereka masing-masing. Maluku melakukan perjuangan untuk Maluku. Disaat Indonesia belum terlihat kesatuannya dan belum mengenal istilah "Nasionalisme". Tetap, ada rasa perjuangan untuk mewujudkan persatuan itu. Memang belum tampak wujudnya tetapi, semangat Nasionalismenya itu ada. Istilahnya itu, Proto Nasionalisme.


Biasanya, yang mimpin perjuangan itu tokoh-tokoh Agama atau Bangsawan kaya Pangeran Diponegoro. Biar begitu, bukan berarti hanya mereka yang boleh melakukan perjuangan. Tiap orang punya caranya masing-masing dalam berjuang. Termasuk Raden Saleh. Raden Saleh tidak menghilangkan fakta bahwa, ia berhutang budi pada Belanda karena beliau diberikan pendidikan seni di Eropa. Walaupun, tujuan dari Belanda pada saat itu adalah untuk eksperimen sosial.


Pengembaraannya di Eropa tidak membuatnya melupakan saudara,teman,keluarga, dan rakyat Indonesia. Sebagai seniman, ia mewujudkan semangat nasionalismenya melalui goresan, warna, komposisi, perasaan dan cerita. Memberi pesan kepada dunia, fakta sejarah yang sebenarnya dan sebagai 'Bambu runcing'nya dalam melawan kolonialisme Belanda.


Iya, udah sampe sini aja. Thanks ya udah baca ^^

 
 
 

Comments


bottom of page